Senin, 30 Juni 2008

Rencana Pemkot Bangun TPA, Harus Bijak

Rencana Pemkot Bogor membangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Kelurahan Kayumanis Kota Bogor menjadi perbincangan yang hangat di kalangan warga Kayumanis. Hangat karena kebanyakan warga baru tahu (dari mulut ke mulut), sehingga ada keterkejutan seakan ada ancaman bahaya yang akan datang. Rencana ini harus transparan dengan melibatkan masyarakat di sekitar lokasi untuk berdialog secara leluasa, terbuka, tanpa intimidasi dan klaim legitimasi. "Hantu" TPA masih membuat masyarakat khawatir dengan dampak negatif yang ditimbulkan keberadaan TPA di dekat pemukiman warga.

Kekhawatiran warga terhadap keberadaan TPA cukup beralasan selama belum ada komunikasi yang terbuka antara Pemkot dengan warga. Bayang-bayang aroma tumpukan sampah menggunung dan membusuk, lalat hijau besar yang beterbangan, tercemarnya air tanah (karena aliran PDAM belum sampai), penurunan nilai jual aset tanah dan bangunan, lalu-lalang angkutan pengangkut sampah yang tidak mungkin menghindar dari lalu lintas umum, dll menjadi ancaman keamanan dan kenyamanan.

Seberapa canggih teknologi yang akan digunakan dan sistem yang akan diterapkan harus dikomunikasikan dan disosialisasikan dengan waktu dan skala yang memadai. Pengalaman penggunaan teknologi 'incenerator' yang 'nongkorong' di empat titik Kota Bogor dan menelan dana milyaran rupiah, sekarang telah tidak berdaya, harus menjadi pelajaran berharga.

Sampah adalah hajat semua orang, bukan hanya hajat Pemkot yang menginginkan citra bersih di mata publik. Pihak-pihak yang seharusnya berbicara juga harus berbicara sehingga masyarakat paham. Pengalaman menunjukkan, persoalan sampah banyak menimbulkan polemik dan konflik yang krusial. Karenanya publik harus dilibatkan secara luas tentang rencana pembangunan TPA di Kota Bogor.