KAYUMANIS, BOGOR -- Kamis pagi setelah mengantar Fathi ke Sekolah -- begitu melewati kobinasi tanjakan dan tikungan melingkar di Bukit Kayumanis Tanah Sareal, tampak kerumunan warga Perumahan Balitro dekat Pos Ronda. Tampak pula bendera kertas warna kuning di ujung jalan. "Siapa yang 'dipanggil'?" tanya Karnain menyelidik. "Pak Ridjal sudah almarhum, Akhi" terang Lukmanul Hakim.
Tak bermaksud melupakan agenda yang disusun, Katana hitam yang sudah mengantar Fathi langsung diparkir. Sejenak janazah yang sudah dimandikan dan dibalut kain kafan di RS PMI Bogor itu segera disholatkan di Masji at-Thur RW 07 Kayumanis. Sejurus kemudian jamaah yang menyolatkan jenazah --bersama tetangga, keluarga dan kerabat-- mengiringi jenazah bergerak menuju pemakaman yang berlokasi di RW 10 Kelurahan Kayumanis. Uniknya, para penggali kubur tidak mengukur panjang jenazah, namun liang yang sudah digali cukup untuk memakamkan jenazah yang semasa hidupnya dikenal sebagai 'Abang sayur' di Bukit Kayumanis Bogor.
Ada kisah yang tercuplik dibalik peristiwa meninggalnya 'Pak Ridjal Sayur' ini. Sepekan sebelum diketahui meninggal, Pak Ridjal yang memiliki nama belakang Buchari ini berpamitan untuk berhajat menuju Kota Bandung. Al-kisah ketika diperjalanan dalam angkotan kota --masih di Bogor-- Pak Ridjal 'dipanggil' Allah SWT. Karena sopir dan penumpang tidak ada yang mengenali, jenazah dilaporkan ke kepolisian dan difisum di RS PMI Bogor. "Pak Ridjal meninggal karena sakit" jelas salah seorang warga.
Karena identifikasi jenazah baru clear seminggu kemudian, jenazah harus 'menginap' di RS PMI dan akhirnya diantar ke alamat duka di Perumahan Balitro yang berdampingan dengan Bukit Kayumanis Kota Bogor. Selama sepekan tanpa kabar, keluarga tidak ada yang merasa gelisah, "Dipikir masih ada urusan di Bandung" uangkap istrinya. Ketika berangkat memang Pak Ridjal sudah dalam keadaan sakit, akhirnya Allah SWT berkehendak memanggilnya dalam perjalanan. "Pak Karnain, Pak Ridjal ini semasa hidupnya selalu mampir ke rumah saya untuk menjajakan sayur. Jadi, saya sempatkan untuk ta'ziyah" jelas Pak Tito, pelanggan setia Pak Ridjal.
"Pak Ridjal ini orangnya prihatin, hidupnya pas-pasan. Anak-anaknya tetap pada sekolah kok. Dan dia tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu di masjid. Ini sisi keteladanan yang muncul pada diri Pak Ridjal yang sangat sederhana" terang seorang tetangga yang cukup dekat. Semoga almarhum Pak Ridjal Buchari mendampat tempat yang terbaik di sisi allah SWT. Amin.
Minggu, 21 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar