Senin, 25 Agustus 2008

Harga Elpiji Naik, Barang Langka

Gas elpiji kemasan 12 kilogram (kg) dan 50 kilogram mengalami kelangkaan kemarin (25/8) bersamaan dengan berlakunya kenaikan harga untuk komoditas tersebut.

PT Pertamina menetapkan harga jual elpiji 12 kg sebesar Rp69 ribu, naik dari harga semula Rp63 ribu per tabung. Elpiji 50 kg naik dari Rp349 ribu menjadi Rp365 ribu. Harga elpiji 3 kg yang disubsidi pemerintah, tetap Rp13 ribu per tabung.

Selain barang langka, harga elpiji di pasaran melampaui ketetapan Pertamina. Misalnya elpiji 12 kg di sejumlah tempat di Jakarta mencapai Rp80 ribu.

Fatkia, akunting PT Satria Bakti Pertiwi selaku distributor elpiji wilayah Rawasari, Jakarta Timur, mengatakan kelangkaan elpiji membuat dia kewalahan melayani agen. "Produsen membatasi pasokan ke distributor. Biasanya dalam sehari bisa dua kali pesan, sekarang tidak bisa lagi," ujar Fatkia ketika ditemui Jurnal Nasional, Senin (25/8).

Fatkia mengatakan PT Satria Bakti Pertiwi biasanya mendapatkan elpiji dari Pertamina, PT Nur Alam, dan PT Suryandra Nusa Bhakti. Satu produsen membatasi pasokan elpiji 50 kg sebanyak 10 tabung, 12 kg sebanyak 110 tabung, dan 3 kg sebanyak 500 tabung.

"Kami terpaksa membatasi pasokan ke agen dengan cara bergulir dengan agen yang lain. Permintaan yang terlalu banyak dari konsumen tidak dapat dilayani oleh distributor karena stok kurang, " katanya.

Merry, agen elpiji di Pasar Manggarai, Jakarta Selatan, mengatakan harus sikut menyikut untuk mendapatkan elpiji dari distributor. "Kami jadi bersaing untuk mendapatkan barang. Stok untuk elpiji tabung besar sampai saat ini masih kosong. Yang banyak hanya tabung kecil. Sulit untuk mendapatkan yang besar."

Semenjak kenaikan harga, Merry menjual elpiji untuk tabung 12 kg seharga Rp80 ribu, sedangkan tabung 3 kg seharga Rp15 ribu.

Kelangkaan juga terjadi di Tangerang. Menurut Haji Ibrahim, pengusaha rumah makan di Tangerang yang ditemui Senin (25/8), seminggu ia membutuhkan 70 tabung gas elpiji ukuran 12 kg. Namun karena langka, dari agen ia mendapatkan 20 tabung saja.

Di Depok, Jawa Barat, elpiji susah ditemukan. Penyalur gas Andi di Kecamatan Beji, menyatakan sejak kenaikan harga gas elpiji mencuat, dirinya belum menerima pasokan dari agen gas di Cilandak.

Kejadian tersebut sudah berlangsung empat hari. "Saat saya menelepon agen, mereka bilang belum ada kiriman dari Pertamina," kata Andi, Senin (25/8). Padahal, biasanya tokonya selalu mendapat pasokan dua hari sekali.

Dia mengakui, permintaan elpiji meningkat belakangan ini. Andi menyetok 100 tabung gas 3 kg dan 12 tabung ukuran 12 kg, namun permintaan gas 3 kg kini mencapai 200 tabung.

Di Yogyakarta, elpiji 3 kg juga mengalami lonjakan permintaan. "Banyak permintaan sejak ada isu kenaikan, bahkan rata-rata bisa menjual 20 tabung dalam satu minggu," kata Irwanto, pedagang di Glagahsari, Yogyakarta.

Siswanto, Wakil Ketua Hiswana Migas Yogyakarta, menyatakan untuk pengawasan elpiji isi 3 kg, pemerintah daerah perlu menetapkan aturan untuk pengendalian harga. Salah satunya dengan menerbitkan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) seperti minyak tanah.

Menanggapi kelangkaan elpiji, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo mengatakan pemerintah harus memperbaiki mekanisme distribusi elpiji. "Jangan sampai terjadi migrasi dari konsumen yang memakai elpiji kemasan 12 kg pindah ke kemasan 3 kg," ujarnya. Ia mengatakan subsidi harus diamankan dari konsumen rumah tangga yang tergolong kaya.

Pertamina memandang kelangkaan ini sebagai reaksi sesaat. "Semua akan kembali normal dalam waktu tiga atau empat hari lagi," kata juru bicara Pertamina, Wisnuntoro. Stok Pertamina cukup untuk 17 hari sesuai kebutuhan normal.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pemerintah tidak mengatur harga elpiji 12 kg. "Elpiji 12 kg tidak mendapat subsidi pemerintah, jadi diatur mereka sendiri," katanya di Jakarta, Senin (25/8).

Jenis bahan bakar yang mendapat subsidi hanyalah premium, minyak tanah, solar dan elpiji 3 kg. Harga Elpiji juga masih di bawah harga keekonomian. Akibatnya Pertamina merugi sekitar Rp6,5 triliun per tahun dari bisnis elpiji. (Sumber Jurnal Nasional 26/8/2008 http://www.jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Halaman%20Muka&rbrk=&id=62831&detail=Halaman%20Muka)

Tidak ada komentar: