
Dalam sesak padat penumpang dan panas gerbong KRL Ekonomi Bogor-Jakarta, terhembus kesejukan budi baik sesosok pemuda tak berkumis dan berjenggot tipis. Dengan setelan baju kontornya yang sederhana, ia bergegas berdiri dari bangku yang ia duduki sejak di Stasiun Bogor, begitu melihut ibu tua yang melangkah agak menyeret kakinya menaiki gerbong ke-2 di Stasiun Cilebut. Dengan lembut dan sopan, pemuda yang berwajah bersih bersinar itu mempersilahkan wanita bercucu itu duduk di bangku yang ia tinggalkan. "Terima kasih, Nak" Sambut Nenek itu sambil tersenyum.
Cuplikan fragmen singkat di atas mengguratkan pesan moral yang sangat mendasar bagi kehidupan kita di luar gerbong kereta ekonomi. Pertama, Kerelaan untuk meninggalkan kenikmatan posisi yang dimilikinya karena melihat ada sosok lain yang lebih tepat dan berhak untuk mendapatkan kedudukan tersebut. Kenyataan saat ini, susah mendapatkan orang-orang yang sudah menduduki jabatan 'basah' kemudian rela meninggalkannya untuk orang lain. Malah, jabatan-jabatan tersebut cenderung untuk dipertahankan dan orang yang dianggap akan mengganggu dan menggeser posisinya akan dimusuhi. Kedua, langkanya sikap mental pemuda budiman di atas tentunya tidak lahir tiba-tiba. Pemuda semacam ini lahir dari ketekunan proses pembinaan kepribadian yang kontinu dan matang. Tumbuhnya pemuda seperti ini harus diupayakan terus menerus. Jumlahnya harus dilipat gandakan, sehingga hembusan hawa sejuk tidak hanya muncul ditengah gerbong kereta yang panas. Tetapi, dalam kehidupan di luar gerbong yang 'keras dan panas' juga akan menghembus 'angin mamiri' yang menyebar ke seluruh penjuru negeri. Semoga... Amin.
Karnain Asyhar, Bogor-Cawang
Cuplikan fragmen singkat di atas mengguratkan pesan moral yang sangat mendasar bagi kehidupan kita di luar gerbong kereta ekonomi. Pertama, Kerelaan untuk meninggalkan kenikmatan posisi yang dimilikinya karena melihat ada sosok lain yang lebih tepat dan berhak untuk mendapatkan kedudukan tersebut. Kenyataan saat ini, susah mendapatkan orang-orang yang sudah menduduki jabatan 'basah' kemudian rela meninggalkannya untuk orang lain. Malah, jabatan-jabatan tersebut cenderung untuk dipertahankan dan orang yang dianggap akan mengganggu dan menggeser posisinya akan dimusuhi. Kedua, langkanya sikap mental pemuda budiman di atas tentunya tidak lahir tiba-tiba. Pemuda semacam ini lahir dari ketekunan proses pembinaan kepribadian yang kontinu dan matang. Tumbuhnya pemuda seperti ini harus diupayakan terus menerus. Jumlahnya harus dilipat gandakan, sehingga hembusan hawa sejuk tidak hanya muncul ditengah gerbong kereta yang panas. Tetapi, dalam kehidupan di luar gerbong yang 'keras dan panas' juga akan menghembus 'angin mamiri' yang menyebar ke seluruh penjuru negeri. Semoga... Amin.
Karnain Asyhar, Bogor-Cawang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar